KKP Integrasikan Teknologi Dongkrak Produktivitas Tambak Garam

Jumat, 13 Februari 2026 | 09:15:15 WIB
KKP Integrasikan Teknologi Dongkrak Produktivitas Tambak Garam

JAKARTA - Upaya mewujudkan swasembada garam nasional tidak lagi hanya bertumpu pada anggaran negara. 

Pemerintah kini membuka ruang kolaborasi lebih luas dengan melibatkan investor dalam pengembangan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. 

Langkah ini ditempuh untuk mempercepat peningkatan produksi sekaligus memperkuat rantai pasok garam nasional yang selama ini masih menghadapi tantangan kapasitas dan kualitas.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melibatkan investor dalam pengembangan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao guna mempercepat peningkatan produksi dan mendukung target swasembada garam nasional. 

Pemerintah menyadari bahwa kebutuhan garam nasional, terutama untuk sektor industri, terus meningkat dan tidak dapat sepenuhnya dipenuhi tanpa dukungan investasi swasta.

Keterbatasan Anggaran dan Kebutuhan Investasi

Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Frista Yorhanita, di Jakarta, Kamis, mengatakan pengembangan kawasan industri garam membutuhkan dukungan berbagai pihak, karena pemerintah tidak dapat membiayai seluruh kebutuhan secara mandiri. 

Ia menjelaskan bahwa kawasan industri garam di Rote Ndao dirancang dalam beberapa zona produksi yang akan dikembangkan secara bertahap.

Kemampuan pembiayaan pemerintah melalui APBN hanya mencakup sebagian zona, sementara sisanya memerlukan investasi dari pihak swasta. Dalam Gelar Wicara Bincang Bahari bertajuk “Hilirisasi Garam untuk Indonesia Mandiri: Tantangan & Peluang Industri Nasional”, Frista menegaskan pentingnya kolaborasi tersebut.

"Pengembangan kawasan industri Rote itu kan tidak mungkin pemerintah semua. Kemampuan APBN kami paling hanya bisa di dua zona. Sisa delapan zonanya itu harus dilakukan oleh investor," kata Frista.

Pernyataan itu menegaskan bahwa keterlibatan investor bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Tanpa dukungan swasta, percepatan pembangunan infrastruktur produksi dan fasilitas pengolahan akan sulit tercapai sesuai target waktu yang telah ditetapkan pemerintah.

Meningkatkan Kapasitas dan Kualitas Produksi

Menurut Frista, keterlibatan investor sangat penting untuk mempercepat pembangunan infrastruktur produksi, fasilitas pengolahan, serta penerapan teknologi guna meningkatkan kapasitas dan kualitas garam nasional. 

Kebutuhan garam nasional yang besar, termasuk untuk sektor industri, menuntut peningkatan produksi secara signifikan.

Kapasitas produksi yang ada saat ini dinilai belum mencukupi apabila hanya mengandalkan satu badan usaha. Ia juga menyinggung peran PT Garam yang selama ini menjadi pemain utama di sektor pergaraman nasional.

"Saya juga pikir PT Garam juga tidak mungkin melakukan semuanya untuk memenuhi kebutuhan (konsumsi garam) 5 juta ton per tahun, butuh banyak (investor) dan PT Garam mungkin juga berat," ucapnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa beban pemenuhan kebutuhan garam nasional tidak realistis jika hanya diserahkan kepada satu entitas. Dengan kebutuhan mencapai sekitar 5 juta ton per tahun, diperlukan partisipasi lebih luas dari berbagai pelaku usaha dan investor swasta.

Pengembangan teknologi produksi menjadi bagian penting dalam strategi peningkatan produksi garam. Teknologi dinilai mampu membantu mengatasi keterbatasan kapasitas serta meningkatkan efisiensi dan kualitas hasil produksi. 

Dengan penerapan teknologi yang tepat, produktivitas lahan dapat ditingkatkan secara signifikan tanpa mengorbankan standar mutu industri.

Rote Ndao sebagai Sentra Strategis

Frista menjelaskan bahwa Rote dipilih sebagai sentra industri pergaraman nasional karena memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah periode panas yang lebih panjang dibandingkan sejumlah sentra garam lainnya. 

Selain itu, kualitas air laut di wilayah tersebut dinilai sangat mendukung produksi garam berkualitas tinggi.

Kawasan Rote memiliki potensi pengembangan tambak seluas 10.000 hingga 13.000 hektare yang dirancang menjadi pusat produksi garam skala industri. 

Pada tahap awal, pemerintah memulai pengembangan zona prioritas sebelum membuka peluang investasi untuk memperluas kapasitas produksi kawasan tersebut.

Target produktivitas kawasan dirancang mencapai 200 ton per hektare guna mendukung peningkatan pasokan garam industri nasional. 

Dengan pengembangan penuh, kawasan ini diproyeksikan mampu menghasilkan ratusan ribu ton garam per tahun. Produksi dalam jumlah besar tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor garam yang selama ini masih terjadi.

Selain memperluas lahan produksi, modeling kawasan Rote juga akan mengintegrasikan teknologi produksi guna meningkatkan efisiensi dan menjaga standar kualitas industri. Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem produksi yang modern dan berdaya saing tinggi.

Sinergi untuk Swasembada 2027

KKP menilai sinergi antara pemerintah, BUMN, pelaku usaha, dan investor swasta menjadi kunci dalam mempercepat pengembangan sentra industri garam dan memperkuat rantai pasok nasional. Tanpa kolaborasi yang solid, target swasembada garam pada 2027 akan sulit dicapai.

Melalui kolaborasi tersebut, KKP berharap target swasembada garam dapat tercapai sesuai rencana sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan industri. 

Pengembangan sentra garam skala industri juga diharapkan membuka lapangan kerja baru dan menciptakan multiplier effect bagi sektor pendukung lainnya.

"Nah, ini penting kita menggandeng investor-investor lain terutama pihak-pihak swasta untuk sama-sama mewujudkan swasembada garam ini," katanya.

Komitmen menggandeng investor menjadi penegasan bahwa transformasi industri garam nasional membutuhkan peran bersama. 

Dengan memaksimalkan potensi Rote Ndao dan dukungan investasi swasta, pemerintah optimistis Indonesia dapat memperkuat kemandirian pasokan garam dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa pembangunan industri strategis tidak lagi hanya mengandalkan belanja negara, melainkan memanfaatkan kemitraan publik dan swasta. 

Jika berjalan sesuai rencana, Sentra Industri Garam Rote Ndao dapat menjadi model pengembangan kawasan industri berbasis sumber daya kelautan yang terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus tonggak penting menuju swasembada garam nasional pada 2027.

Terkini